Selasa, 28 Juni 2016
setan
Kata-kata Cak Nun, sangatlah dalam dan perlu penjelasan ilmiah. Setan tidaklah nampak, manusia tidak mampu melihat setan dengan wujud aslinya. Jadi yang dimaksud disini adalah setan sebagai sifat. Sifat yang senang akan perpecahan dan merasa paling benar sendiri, inilah sifat setan yang ada pada diri manusia. Dengan berpenampilan seperti Nabi Muhammad Saw (memakai jubah, sorban, udeng-udeng) mereka menghasut orang lain untuk saling bermusuhan. Mereka menggunakan ayat-ayat al-Quran untuk membunuh orang. Berapa banyak manusia yang mati karena kebiadaban kekuasaan politik yang mengatasnamakan agama.
Setan-setan ini sekarang mulai menampakkan diri, mudah menuduh orang lain kafir, padahal kekafirannya sendiri tidak dipikirkan. Mereka sibuk mencaci maki orang lain dengan kata-kata kasar, dan enggan intropeksi kepada dirinya sendiri. Inilah hakikat setan, merasa paling sempurna sehingga mereka mampu mengkapling surga, selain kelompoknya tidak akan masuk surga. Mereka juga menggunakan dalih menegakkan hukum Allah, padahal yang mereka incar adalah menaklukkan wilayah negara lain untuk kelompoknya.
Sifat-sifat setan ini yang membuat Suriah, Irak, Libya, Somalia, Afganistan, Pakistan dilanda perang saudara. Berbicara bagaikan Nabi Muhammad Saw, di tangan kanan membawa al-Quran dan ditangan kiri membawa pedang, mereka membunuh satu sama lain. Membunuh warga sipil yang tak berdosa. Dengan dalih agama juga mereka menculik orang lain yang mana ujung-ujungnya mereka meminta tebusan. Ali bin Abi Thalib pun sudah memperingati bahaya kelompok orang yang berpenampilan Nabi dan bermulut al-Quran, bahwa mereka membaca al-Quran hanya sampai batas kerongkongan saja, mereka tidak mampu menerima cahaya hikmah al-Quran tentang kedamaian dan toleransi, alih-alih ingin menegakkan hukum Allah, justru mereka membunuh Ali yang mana Ali adalah menantu Nabi Muhammad Saw.
Mereka selalu mengatakan mereka adalah pengikut Nabi Muhammad yang sejati, padahal apakah Nabi Muhammad pernah membakar tawanan? atau menjadikan budak seks tawanan tersebut? atau menjadikan anak-anak tameng untuk melakukan bom bunuh diri? tidak satupun Nabi Muhammad pernah melakukan itu. Itu adalah perbuatan setan yang berbentuk manusia, demi ambisi kekuasaannya mereka bergaya bagaikan Nabi Muhammad. [ARN]
Togel jitu malam ini 28.06.2016
Prediksi Togel Hongkong Selasa 28 Juni 2016, Permainan togel merupakan permainan yang sangat digemari oleh masyarakat luas khususnya masyarakat indonesia karena caranya yang mudah dan perkalian untuk menang sangat besar. Semenjak di perkenalkan judi togel online peminatnya bertambah terus karena dengan HP/COMPUTER yang anda miliki kita sudah bisa memasang togel jadi anda gak usah repot lagi untuk keluar rumah mencari bandar togel.
Dan kami tidak bosan untuk mengingatkan anda agar mencari bandar togel yang resmi dan terpercaya, pilihlah bandar resmi yang menjadi patner kerja kami selama ini dan di sanalah anda akan merasakan kepuasan karena yang akan menjamin kemenangan anda akan terbayarkan berapun yang anda menangkan secara aman dan cepat.
Berikut adalah prediksi togel Hongkong hasil KedaiPrediksiBola.com hari ini. Prediksi yang kami berikan mencakup dari angka 2D, colok bebas, colok macau, colok as kop dan colok jitu kepala ekor.
Prediksi Togel Hongkong Selasa 28 Juni 2016
Angka Ikut / Angka Main 1096
Colok Bebas 0/6
Colok Macau 09/61
ANGKA AS 6039
ANGKA KOP 5073
ANGKA 2D T0P
68 44 83
53 11 13
15 28 41 32 (bolak-balik)
ANGKA 2D CADANGAN
76 04 24
17 06 21
31 43 49 79 (bolak-balik)
Mudah mudahan dapat
Jumat, 01 April 2016
Hajar sswad
Hajar aswad
Nampaknya tidak ada tempat ibadah di muka bumi ini yang “ramainya” melebihi Ka’bah. Meski bangunan ini “hanyalah” sebuah batu yang di “lepo” berbentuk kubus, dan tingginya pun tidak lebih dari beberapa meter saja, namun Ka’bah selalu dikitari manusia selama 24 jam, sepanjang masa tanpa berhenti sedetik pun! Kawan saya percaya jika orang tawaf ini berhenti sedetik saja, maka dunia akan kiamat!
Ketika saya datang ke tanah suci, saya juga menyaksikan ribuan orang tawaf setiap saat. Saat itu saya “keder” untuk mengerjakan thawaf di siang hari karena manusia berjubel, bahkan ada yang terlihat “ganas” karena mendesak dan menyikut kanan kirinya agar mendapatkan jalan. Karenanya, saya mencoba untuk datang pada malam hari sekitar jam satu sampai jam dua malam. Harapannya tentu Ka’bah relatif sepi. Namun dugaan itu keliru, karena Ka’bah tetap rame dan tak pernah sepi dikitari manusia yang sedang thawaf! Ayo tunjukkan tempat ibadah di dunia ini yang tidak pernah sepi dari kegiatan ibadah! Nampaknya tidak ada yang melebihi Ka’bah!
Ilaihi Roji’un
Thawaf itu adalah gerak “inti atom”, elektron mengelilingi proton yang dalam ilmu teknik elektro atau fisika teknik akan menimbulkan energi dahsyat. Dari sisi religius, tawaf itu adalah gerak inti ilaihi roji`un, kembali kepada Allah SWT. Ilaihi roji’un adalah kata kunci ibadah, karena Islam adalah ibadah yang fondasi utamanya adalah menghamba kepada Allah SWT. Orang yang sudah menghamba kepada Allah SWT pasti akan selamat hidupnya dunia akherat dengan tidak harus meninggalkan kehidupan duniawi.
Orang yang sudah ilaihi roji’un pasti akan tenteram hidupnya, yang kata orang Jawa adalah sumeleh. Orang yang tenteram hidupnya akan mudah berpikir jernih, tidak ngoyo dan tidak kemrungsung, namun juga tidak anti-dunia. Ia mampu memenejemen dunia-akherat dengan takaran yang pas, adil, dan indah.
Sayangnya, dalam melaksanakan thawaf banyak orang yang tidak tahu “teknisnya”, apalagi filosofis-teologis ini. Di atas sudah saya katakan, banyak mereka yang thawaf harus mengeluarkan tenaga yang besar, karena harus menyikut dan mendesak orang lain di kiri kanannya. Bahkan orang yang mau masuk dan keluar lingkaran thawaf, langsung memotong begitu saja sehingga mengganggu “tarian” memutar ini.
Saya sering tergoda untuk marah jika pas thawaf dipotong orang. Kalau orang asing saya tidak sadar mengumpat: “stupid, don’t crossing”, kalau orang Indonesia juga saya teriaki: “Goblog, jangan memotong jalan”. Mestinya orang thawaf kalau masuk atau keluar meniru gerak “obat nyamuk”. Kalau masuk ya harus pelan-pelan sambil kakinya bergeser ke kiri. Jika ini dilakukan, maka dalam satu putaran saja kita sudah mendekati Ka’bah. Demikian pula pas putaran kelima, sambil geser kanan terus memutar, maka pada putaran ketujuh atau terakhir, maka kita langsung akan keluar dari lingkaran thawaf menuju air zam-zam. Hanya orang “bodoh” yang mengeluarkan banyak tenaga jika sedang thawaf, karena kita “pasif” saja, badan ini akan didorong orang.
Hajar Aswad dan “Mengancam” Allah
Di sisi lain, saya juga kagum sekaligus prihatin, banyak orang berebut di dekat Hajar Aswad dengan tujuan untuk mencium batu hitam ini. Mereka laksana orang “kesetanan”, “ndadi”, lupa kiri kanan, yang penting dapat menciumnya. Di satu sisi kita juga kagum atas kecintaan mereka untuk meniru Rasulullah, namun di sisi lain juga prihatin, betapa bodohnya mereka karena tidak ada rasa saling toleransi. Coba kalau mereka sabar dan berbagi dengan tertib, maka satu persatu pasti akan dapat menciumnya dengan baik meski hanya beberapa detik, persis seperti orang yang mengular untuk salaman halal bihalal di Istana Merdeka.
Teman-teman saya dari Indonesia semuanya mengeluh karena kalah “bersaing” dengan bangsa kulit hitam yang tinggi besar, atau bangsa Turkey, India, Usbezkistan, dst. Alhasil tak ada satupun dari 400 orang rombongan saya yang berhasil mencium batu hitam itu.
Saya tanya mereka bagaimana cara memasuki Ka’bah dan mendekat Hajar Aswad? Jawabnya yang sama: pokoknya masuk saja dan langsung ke tengah! Atas jawaban ini sayapun sadar bahwa ada yang keliru. Karenanya untuk membuktikan bahwa cara mereka keliru, maka saya ber-“eksperimen”.
Malam hari sebelum ke Hajar Aswad, saya sudah sholat tahajud di Maktab untuk “kulonuwun” kepada Allah SWT. Pagi hari setelah sholat subuh saya ulangi permintaan itu, dan waktu dhuha, saya berangkat sendirian ke Masjidil Haram, dengan tujuan hanya satu: mencium Hajar Aswad.
Begitu masuk Masjidil Haram, saya tidak mau gegabah. Sholat dulu dua rekaat sebagai sholat dhuha dan sholat dua rekaat khusus untuk “mohon pertolongan” Allah SWT agar dimudahkan dalam mencium batu hitam itu. Dalam sholat itu ada empat doa yang saya panjatkan.
Pertama, karena saya membaca riwayat bahwa Rasulullah pernah menciumnya, maka dalam doa itu saya mem-feta kompli Allah SWT. Ya Allah, kalau benar Rasulullah pernah mencontohkan mencium Hajar Aswad, maka cobalah tunjukkan kebenaran itu dengan jalan memberi ijin kepada saya untuk menciumnya (he he he malaikat tertawa mendengar “ancaman” saya ini). Kedua, saya berjanji tidak akan syirik. Batu hitam ini hanyalah batu dan bukan tempat untuk meminta. Ketiga saya berjanji tidak akan menyakiti yang lain untuk dapat menciumnya, dan keempat saya mohon pertolongan dan dimudahkan serta tidak disakiti.
Setelah itu sesuai saran Cak Nun, saya harus membuka Quran “secara acak” dan menemukan surat apa, langsung saya baca. Setelah selesai, saya langsung menuju Ka’bah untuk memulai “misi khusus” ini. Saya tetap keder, karena jam 8 pagi Ka’bah juga lebih ramai karena matahari belum begitu tinggi, bahkan dari kejauhan, orang saling mendorong berjubel di Hajar Aswad.
Namun karena saya sudah minta ijin, maka dengan tekad bulat saya langsung bergabung dengan ribuan orang, masuk lingkaran tawaf. Dengan teknik “obat nyamuk” saya langsung masuk dan ajaibnya, tanpa kesulitan dalam satu putaran tawaf saya sudah berada di dekat Hajar Aswad.
Di sini sudah puluhan orang berebut dengan saling dorong dan menyikut. Seorang perempuan India terjepit dan menjerit hampir pingsan, lalu ditarik keluar oleh suaminya. Ada seorang dari Kirgistan dicekik orang Nigeria yang tinggi besar, hingga akhirnya si Kirgistan ini menggigit lengan si negro ini (persis Mike Tyson menggigit Hollyfield) dan si negro berteriak langsung keluar dari lingkaran rebutan. Saya yang relatif kecil ini hanya pasrah “ndepipis” ikut arus kesana kemari sambil pikiran tetap tenang dan matur kepada Allah melihat orang kesetanan itu.
Setelah lima belas menit saya diombang-ambingkan orang yang berdesakkan. E-e tiba-tiba tubuh saya serasa didorong dan benar, langsung mendarat di depan Hajar Aswad. Saya langsung lupa diri tidak sempat mengucap ”bismillah hi Allahu Akbar” langsung saja “mencocor” batu hitam ini yang ternyata penuh keringat dan “umbel” banyak orang. Saya sudah berjanji tidak akan egois, dan cukup dua detik saja.
Namun apa yang terjadi, saya tidak dapat bergerak ke luar dan tetap berada di depan batu hitam ini beberapa lama. Saya juga tidak ditarik atau didorong keluar, karena orang-orang di belakang saya ribut bertengkar. Akhirnya daripada “bengong” saya ulangi lagi mencium Hajar Aswad ini bahkan berkali kali! Padahal sebelumnya banyak orang yang baru akan masuk ke lingkaran frame batu ini saja sudah ditarik oleh pengantre di belakangnya atau oleh askar Arab yang bergelantungan di dinding Ka’bah seperti laba-laba itu.
Luar biasa, Allah SWT telah memenuhi janjiNya karena saya “ancam” tersebut (he he he). Kembali ke maktab saya ceritakan pengalaman ini kepada isteri. Diapun iri, dan akhirnya minta saya mengantarnya esok paginya dengan “resep” kulonuwun ala saya tersebut. Benar esok harinya, saya antar isteri. Jam 7 pagi kami berdua turun dari lantai 8 Maktab untuk berjalan ke Masjidil Haram.
Namun di tengah perjalanan saya merasa kehilangan dia. Saya kaget, dimana isteri saya? Ternyata setelah saya cari, ia sedang sibuk membeli kalung mainan di pinggir jalan. Seketika hati saya tergetar, tanda-tanda tidak baik. Setelah saya “marahi” secukupnya kami berdua tetap ke Masjidil Haram. Sampai di sana, persis seperti yang saya lakukan kemarin, kami berdua sholat untuk minta ijin kepada Allah agar dimudahkan mencium Hajar Aswad. Doa dan “ancaman” sama seperti kemarin namun saya tambahi kata-kata permohonan maaf atas kelakuan isteri (yang mampir membeli kalung) tersebut.
Betul, begitu masuk, kami berdua memang berhasil ke arah kerumunan orang yang berebut di dekat Hajar Aswad, namun berkali-kali berusaha, isteri saya selalu terpental. Bahkan sudah dua kali ia berhasil memegang frame putih batu hitam ini, yang berarti tinggal sepuluh senti dari Hajar Aswad untuk menciumnya, namun selalu terpental! Akhirnya karena hampir pingsan dia, maka kami sepakat keluar.
Ia nampak kecewa. Sebagai suami, maka saya hibur dia. ”Nggak apa-apa lumayan sudah bisa pegang” Dia balik bertanya “Mengapa ya mas kok susah menciumnya padahal penjenengan sangat mudah?”. Jawab saya enteng saja: “Kamu tadi salah sih. Orang sudah berniat ke Ka’bah kok masih mampir beli kalung. Wong mau ketemu kekasih kok serong kiri, padahal kekasih itu sudah lama menunggumu”.
Mendengar jawaban saya ini, isteri pun tersenyum kecut. Kami akhirnya berjanji, yang penting nanti di kehidupan keseharian, kita jangan “menyelingkuhi” Allah dan Rasulullah. Kalau sudah madhep-mantheb menggabung ke Allah dan Rasulullah, jangan “mampir-mampir”, berjalan lurus saja!
Logged in as irlansyah1.
Rabu, 30 Maret 2016
Ibu
Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah berikut ini justru kebalikannya. Dengan adanya “kebohongan” ini, justru dapat membuka mata hati kita seperti sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.
Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata: "Makanlah nak, aku tidak lapar". [Kebohongan Ibu Yang Pertama]
Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekiat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan anaknya. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk disamping saya dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata: "Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan". [Kebohongan Ibu Yang Kedua]
Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah aku dan kakak-kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak korek api. Aku berkata: "Ibu tidurlah, sudah malam, besok pagi ibu masih harus kerja." Ibu tersenyum dan berkata: "Cepatlah tidur nak, aku tidak capek". [Kebohongan Ibu Yang Ketiga]
Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang
dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata: "Minumlah nak, aku tidak haus". [Kebohongan Ibu Yang Keempat]
Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai kepala keluarga. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kami pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun turut membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata: "Saya tidak butuh cinta". [Kebohongan Ibu Yang Kelima]
Setelah aku dan kakak-kakakku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata: "Saya punya cukup uang". [Kebohongan Ibu Yang Keenam]
Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku: "Aku tidak terbiasa". [Kebohongan Ibu Yang Ketujuh]
Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudera atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata: "Jangan menangis anakku, Aku tidak kesakitan" . [Kebohongan Ibu Yang Kedelapan]
Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.
Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan: " Terima kasih ibu ". Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah. Jika dibandingkan dengan pasangan kita, kita pasti lebih peduli dengan pacar kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar kita, cemas apakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di samping kita. Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari orang tua kita? Cemas apakah keduanya sudah makan atau belum? Cemas apakah orang tua kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan kembali. Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi orang tua kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata "MENYESAL" di kemudian hari.
Selasa, 29 Maret 2016
Haji
Haji
Ini adalah tulisan tentang haji dari seorang yang belum pernah naik haji, bahkan belum pernah sekedar mendapat oleh-oleh air zamzam. Oleh karenanya, penulis memohon maaf atas kelemahan mendasar dari tulisan ini.
Taraf saya masih semacam Haji Bawakaraeng. Gunung Bawakaraeng ada di Sulawesi. Pada musim haji, sejumlah orang Islam mendatanginya dan melakukan sejumlah ritus seolah-olah mereka sedang benar-benar menjalankan ibadah haji.
Tentu saja secara ‘syar’i, yuridis formal’, mereka tak bisa dianggap telah berhaji. Tapi sekurang-kurangnya mereka memperoleh kemungkinan ekonomi untuk sungguh-sungguh berangkat ke Tanah Suci yang asli.
Alhamdulillah, Islam punya kecenderungan besar untuk memudahkan pemeluk-pemeluknya. Kalau tak sanggup berdiri dalam menjalankan shalat, boleh duduk. Kalau tak bisa duduk, silahkan berbaring. Begitu juga haji.
Sementara ini ‘pangkat’ saya barulah penggembira, ikut bahagia ada fenomena peribadatan bernama haji. Ikut senang banyak orang berbahagia naik haji. Ikut bergembira dan menginternalisasikan — secara ‘platonis’ — ide-ide, gagasan, metode, tarikan, modus, serta pengembaraan rohaniah yang sedemikian total mewahidkan tiga dimensi esensial kehidupan manusia: kebenaran, kebaikan, dan keindahan.
Haji adalah — atau kita sebut: semestinya — puncak totalitas penyatuan antara tiga dimensi itu, yang diperjuangkan oleh kehidupan manusia. Haji lebih dari sekedar efek dari kesanggupan ekonomi seseorang untuk berangkat ke Arab Saudi: juga lebih dari sekedar ‘romantisme pengembaraan kultural’. Bukan aksesori keperluan politik, status dan kebanggaan sosial.
Adapun saya, tergolong di antara ratusan juta ummat Islam yang belum atau tidak pernah naik haji, sehingga hanya bisa ‘menabuh beduk’ dari kejauhan: Betapa benar mauatan inisiatif-Mu ya Allah. Betapa baik kandungan anjuran-Mu, ya Allah. Labbaika allahumma labbaik!
Nyayian cinta, lagu-lagu rindu, yang dilantunkan oleh jutaan hamba-Mu di tanah suci pada hari-hari haji, ditampung oleh ribuan malaikat dan diangkut ke langit, diserahkan kepada-Mu dengan deraian air mata syukur. Adapun Engkau abaikan kami-kami yang belum atau tidak sanggup berangkat ke rumah-Mu?
Padahal rasa rindu kami terlebih-lebih dari berlipat-lipat karena jarak ketidakmampuan kami. Padahal kalau saudara-saudara kami di tanah suci-Mu meneriakkan nama-Mu, kami memekikkannya. Di dalam kejauhan jarak ini tangis kami adalah hujan sunyi yang hanya Engkau belaka yang sanggup mendengarkannya. Jadi bolehlah kiranya dari rumah melarat di kampung kami sendiri, kami mendendangkan lagu Labbaika allahumma labbaik! Labbaika allhumma labbaik! Labbaika la syarika laka labbaik!
Haji Dan ‘Tarian’ Sunnatullah
Haji adalah sebuah kemewahan ekonomi, bagi kita yang bertempat tinggal jauh dari Tanah Suci. Tatkala para penempuh haji berpakaian ihram, mereka ‘melompat’ naik ke taraf transendensi budaya: menanggalkan status sosial, kedudukan, tingkat-tingkat jabatan dan profesi. Metode itu membawa manusia kembali ke kefitrian, ke otentisitas dan kesejatian dirinya.
Pada pengalaman berhaji, mungkin seseorang menjadi mengerti bahwa jati diri bukanlah to be pada tataran-tataran sosial-budaya, sebab itu semua hanyalah cara atau jalan menjadi seseorang, sesuatu atau ‘aku’ yang lebih sejati, lebih kualitatif, atau lebih berorientasi ke universalitas nilai ‘Aku primer’ manusia bukan ‘aku pedagang’, ‘aku partai’, ‘aku status sosial’: sebab puncak dari semua jenis ‘aku’ tersebut pada akhirnya adalah aku manusia.
Di dalam Islam, ‘aku manusia’ meningkatkan dirinya menjadi aku ‘Abdullah’ atau ‘aku hamba Allah’ kemudian ‘aku khalifatullah’ atau ‘aku hamba Allah’ kemudian ‘aku khalifatullah’ atau ‘aku wakil Allah’, kemudian meningkat atau lebih menginti lagi.
Ketika mereka berputar mengelilingi Ka’bah, yang mereka lakukan seolah-olah adalah tarian sunnatullah: gerakan pada inti atom atau sel, atau koreografi bintang-bintang, planet dan satelit; yang pada perspektif kesadaran local manusia hal itu menciptakan ikhtilafillaili wannahar, pergantian siang dan malam.
Haji dan Esensialisasi Diri
Dan tatkala para hamba Allah itu bersujud, yang mereka sembah bukanlah Ka’bah, melainkan merupakan simbolisasi ahad dan wahid. Ahad itu satu-Nya Allah, dan wahid itu penyatuan semua kuantitas indidividu manusia dan keummatan manusia, serta semua sistem kualitas nilai dirinya, pada satu mata air, yang menjadi sumber dan sekaligus muara segala sistem eksistensi.
Proses penegakan ‘ahad’ dan penempuhan ‘wahid’ itu disebut tauhid. Proses penyatuan. Menyatukan diri dengan Allah. Proses penyatuan diri dengan Allah itu ditempuh melalui metode transdimensi: status sosial, kedudukan budaya, bahkan pada akhirnya unsur biologis manusia harus ditanggalkan, karena ia bersifat sangat relatif dan temporer.
“Barangsiapa mendambakan kesatuan dengan-Ku, hendaklah ia berbuat baik….”, dalam pergaulan sehari-hari, melalui lembaga, partai, birokrasi dan apapun, meski dalam bentuk yang seolah-olah ‘non-agama’. Artinya, pertemuan dengan Allah tidak dalam keadaan biologis dan budayawi, melainkan ketika kita telah menjadi cahaya rohani, yakni telah menjadi inti perbuatan baik itu sendiri.
Ibadah shalat, puasa dan haji, juga landasan syahadat — kesadaran dan ikrar eksistensi manusia — adalah juga metode pengatmosfiran diri menuju kesadaran ‘ahad’ dan ‘keberadaan’ ‘wahid’. Namun peristiwa haji adalah kemewahan, adalah puncak dari segala kemungkinan semacam itu.
Dengan itu semua saya membayangkan bahwa menjalankan ibadah haji adalah kesempatan ‘mencicipi’ peristiwa pencintaan langsung dengan Allah, melalui sejumlah tahapan sublimasi, kristalisasi dan universalisasi dan esensialisasi diri.
Bermilyar-milyar kekasih Allah adalah penari-penari dan Allah adalah pusat tarian agung di mana Ia berkata — “Kalian kekasihku, semua kalian kekasihku, mendekatlah, mendekatlah kemari, berkerumunlah di seputarku. Akan kutaburi wajah kalian dengan cahaya sehingga seluruh keberadaan kalian akan bergelimang cahayaku. Dan nanti akan kubukakan wajahku, agar kalian melihat betapa indahnya Aku….”
Dengan demikian mestinya haji adalah produk dari proses kualifikasi diri seeorang muslim yang ditempuh melalui rutinitas intens peribadatan-peribadatan yang lain, seperti shalat, zakat, puasa, dan — tentu saja — pada mulanya ikrar syahadatain.
Syahadat memfokuskan diafragma idealisme hidup. Shalat mencahayai kejernihan. Obyektivitas akal, keseimbangan mental, ketulusan hati dan ketenteraman jiwa. Zakat melatih kesadaran bahwa “susu kambing harus diperah untuk anak-anaknya atau makhluk lain”, karena dalam harta yang kita miliki terdapat milik orang lain. Puasa membuat manusia jadi pendekar kehidupan. Dan haji adalah madu dari semuanya.
Madu bukan makanan bukan minuman: di antara keduanya. Haji pun adalah titik sublim dari seluruh proses peribadatan dan tradisi baik manusia. Maka apakah haji seseorang mabrur atau tidak, jawaban pastinya ada di tangan Allah, karena dia yang punya otoritas tunggal untuk menerima atau menolak.
Tapi gejala kemabruran haji seseorang, bayangannya, pantulannya, barangkali bisa dijumpai pada output sosial seorang haji. Pertanyaan itu sederhana: apakah sesudah haji, ia adalah madu bagi tetangga-tetangganya, bagi orang lain, bagi masyarakat, bangsa dan negara?
‘Menjadi madu’ itu punya kemanfaatan sosial, produktif dan kreatif bagi kemaslahatan umum. Dalam hal ini saya tidak bersedia ‘ngrasani’ tentang kualitas madu haji-haji kita. Kaum haji adalah tingkat manusia yang semestinya paling pandai bercermin diri.
Haji dan Kesusahan
Tetapi dengan perspektif itu kita masing-masing bisa kembali mengevaluasi. Misalnya seberapa jauh atau seberapa dalam pengalaman haji seorang merupakan peristiwa agama. Dan seberapa jauh ia ‘hanya’ merupakan peristiwa sosial.
Kalau seorang ‘gugup’ menaruh gelar haji di depan namanya, ia semata-mata kasus sosial, bukan kasus agama. Apalagi kalau berhaji diinstrumentalisasikan untuk kepentingan politik pribadi, untuk aksesoris kultural, atau untuk menambah ‘peci’ reputasi.
Kita yang naik haji dengan fasilitas mewah, tentu identitas dan ragam pengalaman batin kita akan kalah dengan dibanding nenek moyang kita yang berhaji berbulan-bulan dengan kapal. ‘Penderitaan’ dalam perjalanan haji secara psikologis bias merupakan ‘asset’ dari kualitas penghayatan ibadah haji, meskipun agama tidak menganjurkan agar Anda hidup untuk mencari penderitaan.
Tetapi saya tidak tahu apakah kalau penderitaan para jamaah haji itu ‘disengaja’ oleh berbagai keputusan birokrasi resmi perjalanan haji — dari standar harganya yang makin tidak meringankan hingga jenis-jenis korupsi kecil-kecilan yang besar yang lain — akan membuat para birokrat kita memperoleh pahala. Hanya karena tindakan mereka bisa memungkinkan intensifikasi penghayatan kehajian para jamaah.
Tetapi saya memang pernah mendengar isi pidato birokrat haji: “Kalau saudara-saudara mengalami kesusahan-kesusahan selama proses akan naik haji, ambillah hikmahnya, karena di Tanah Suci nanti akan ada kesulitan yang lebih besar dan serius….”
Haji dan Kiai
Kadar peristiwa haji sebagai pengalaman agama dan pengalaman sosial biasa, mungkin bisa kita cari indikatornya juga dari makna sosiologi haji dengan kiai.
Ada ratusan ribu haji dan kita bisa ‘melupakannya’, sementara ada tidak banyak kiai namun kita tak bisa melupakannya. Secara kultural kiai lebih ‘berwibawa’ dan lebih menjanjikan kualitas hidup dibanding haji. Padahal haji adalah produk agama, sementara kiai adalah produk masyarakat.
Kalau seseorang disebut haji, itu hanya menginformasikan bahwa ia pernah melakukan ibadah haji ke Tanah Suci. Tapi kalau seseorang disebut kiai, ada berbagai dimensi yang dikandungnya: kesalehan, kepandaian, kealiman, kepribadian, dan mungkin juga kepemimpinan atau kapasitas-kapasitas fungsi dan reputasi sosial tertentu, yang mungkin sama sekali tak terasosiasikan ketika seseorang disebut haji.
Kenapa secara sosiologis haji ‘kalah wibawa’ dibanding kiai? Kenapa syarat dan konvensi keulamaan seseorang lebih diwakili idiom kiai dibanding haji? Kalau disebut H. Bur, tak begitu terdengar di telinga. Tapi kalau ditambah menjadi KH. Bur, baru orang mendongak. Kenapa?
Mungkin karena pada umumnya pengalaman haji berposisi diskontinyu dan mungkin irrelevan dengan tahapan-tahapan peningkatan kualitas kepribadian seseorang melalui proses Islamisasi diri dalam kehidupan nyata. Mungkin.
PUBLISHED BY irlansyah
What low oil price
Since the start of 2016, oil prices have swung between $27 and $42 per barrel, about a quarter of the 2008 peak crude oil price of $145. On February 16, oil ministers from Saudi Arabia, Russia, Qatar, and Venezuela agreed to a tentative deal to freeze their production in an attempt to boost prices. This was a characteristic move. For decades, this is how the oil business has worked. Producers carefully control production to try to match supply to demand. But there’s a lag between these decisions and their effects, creating the boom and bust cycles so typical in the business.
In reaction to this freeze, oil prices not surprisingly jumped 5%. But the next day, they promptly fell back below $30. One week later, the oil minister of Iran, a country that had no intentions to join the freeze, and in fact still plans to double its oil production, called the freeze “a joke.”
Nobody really knows what oil prices will be in the future, but we think countries and companies should prepare for oil to hover around $50 per barrel for the foreseeable future. Historically this wouldn’t be shocking at all. In fact, today’s oil prices that we think of as low are actually near the real average price of a barrel of oil for the last 150 years: $35 (2014 US dollar reference year).
What is surprising though, is the fundamental shift we think is happening. The current low oil price environment is not an “oil bust” that will be followed by an “oil boom” in the near future. Instead, it looks as if we have entered a new normal of lower oil prices that will impact not just oil and gas producers but also every nation, company, and person depending on it.
This new normal is the result of the oil business being disrupted.
In the past, it was assumed that conventional oil reserves would be developed by national oil companies and major oil and gas companies to supply virtually all of the world’s oil demand. And it would take them as long as 5 to 10 years to explore, develop, and then bring production to market after investing billions of dollars into new fields. These are some of the basic assumptions behind the model that has guided the oil and gas industry for decades.
But during the past decade, American shale oil and gas producers pioneered a new business model that shattered the incumbents’ approach. U.S.-based shale oil producers have improved their drilling and fracturing technology, and they can ramp up production in an appraised field in as few as six months at a small fraction of the capital investment required by their conventional rivals. As a result, shale oil has soared from about 10% of total U.S. crude oil production to about 50%. That has enabled the U.S. oil industry as a whole to produce roughly 4 million more barrels of crude oil every day than it did in 2008, closing the gap between U.S. oil production and the world’s other two top producing countries, Russia and Saudi Arabia. In January this year, the U.S. lifted the 40-year-old ban on exporting American oil, and the maiden shipments are finding their way to global markets allowing U.S. oil producers to take advantage of markets that provide higher netbacks.
These “unconventional oil and gas producers” in the U.S. are acting as a quasi swing producer, the counterweight to traditional spare capacity held mostly by OPEC heavyweight Saudi Arabia. At the same time several other countries such as China and Argentina are beginning to develop their shale oil and gas resources by adopting the technology and business model as well as building an investment and supply chain ecosystem that supports this development. Saudi Arabia, with its excess capacity, used to be a swing producer that could bring production on- or offline to control market prices.
But now, that leverage is significantly reduced. If the price goes up, the disruptors can counteract the big producers’ decisions to cut production in a matter of months, rather than years. That’s why the big producers’ decision to freeze production in February — completely predictable according to the old industry business model — was problematic. If traditional producers freeze production and allow prices to go up, shale disruptors will become competitive and simply rush in to fill the void and eat up their market share.
So what could a decade of lower oil prices mean?
New challenges for producers
Depending on how nations react, a lower per-barrel oil price could result in a new balance of power in the oil industry. We recently conducted a study to test the impact of sustained $50 oil on oil-producing countries. The results showed that $50 oil puts some producing countries under considerable stress as they grapple with less oil revenue in their national budgets. Venezuela, Nigeria, Iraq, Iran, and Russia could be forced to address substantial budget deficits within the next five years.
Gulf Cooperation Council (GCC) producers such as Saudi Arabia, the United Arab Emirates, Kuwait, and Qatar have amassed considerable wealth during the past decade through cash reserves and sovereign wealth funds. But even these countries could come under stress in the next decade if they continue to follow their status quo.
Kasih sayang ibu
Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku: "Aku tidak terbiasa". [Kebohongan Ibu Yang Ketujuh]
Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudera atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata: "Jangan menangis anakku, Aku tidak kesakitan" . [Kebohongan Ibu Yang Kedelapan]
Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.
Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan: " Terima kasih ibu ". Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah. Jika dibandingkan dengan pasangan kita, kita pasti lebih peduli dengan pacar kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar kita, cemas apakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di samping kita. Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari orang tua kita? Cemas apakah keduanya sudah makan atau belum? Cemas apakah orang tua kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan kembali. Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi orang tua kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata "MENYESAL" di kemudian hari.